q bleh g y nunggu dy?????
q pngen nunggu dy…tp koq mlah baxk yg g blehn aq nunggu dy,,,,
kl q bleh nunggu dy,,,pst q tunggu,,,
knp sech smwx hrz sp’t ini????
q jd g pham ma smwx…
ttg-q & dy….
q bleh g y nunggu dy?????
q pngen nunggu dy…tp koq mlah baxk yg g blehn aq nunggu dy,,,,
kl q bleh nunggu dy,,,pst q tunggu,,,
knp sech smwx hrz sp’t ini????
q jd g pham ma smwx…
ttg-q & dy….
“ Brum….brum….,” suara motor itu mengagetkanku. Tetapi ada yang lebih mengagetkanku, karena ternyata kakakku datang dengan salah seorang temannya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
” Assalammu’alaikum,” kata kakakku sambil masuk rumah ke dalam rumah setelah memarkirkan motornya di halaman rumah.
” Wa’alaikumsalam,” jawabku.
” Ryota, ayo masuk !” ajak kakakku pada temannya itu.
” Iya…Assalammu’alaikum !” kata teman kakakku itu, menyusul kakakku masuk ke dalam rumah.
” Wa’alaikumsalam !” jawabku lagi, yang segera bergegas bangkit dari tempat dudukku di ruang tamu rumahku.
Dengan segera aku berjalan menuju kamarku.
*
Di dalam kamar…
” Ya, ampun….temen kakak yang tadi itu cakep banget ya….dan namanya itu kak Ryota,” gumamku.
” Tapi, perasaan kakak belum pernah ngajak kak Ryota maen ke sini deh…” pikirku heran.
Ya memang…kak Alvont, kakakku yang satu itu jarang datang ke rumah. Karena sudah dari kecil tinggal di rumah nenekku, meskipun masih dalam satu kota. Tak heran kalau aku kaget melihat kak Alvont yang baru pertama kali mengajak temannya untuk ke rumah.
*
” Adek….adek….,” suara kakakku memanggilku yang ternyata sudah ada di depan kamarku.
” Ya kak…ada apa ?” tanyaku yang segera membuka pintu kamar.
” Ibu ke mana, dek ? Kok aku dari tadi belum lihat ibu, ya !” kata kakakku.
” Oh…ibu…dari tadi pagi pergi sama bapak. Mangnya ada apa sih, kak ?” tanyaku lagi.
“ Aku sudah mau pergi lagi nih sama temenku…ntar bilangin ke ibu sama bapak ya dek kalo aku tadi ke sini !” pinta kakakku.
“ Oke deh kak…” jawabku.
“ Uugghh…adekku yang satu ini mang baek banget deh ! Mau gak kukenalin ma temenku yang tadi itu ?” kata kakakku yang menggodaku sambil mencubit pipiku.
“ Aduuhh…apa’an sih, sakit tahu ! Ntar tambah tembem lho !” timpalku sambil memegang pipiku yang habis dicubit.
” He…he…he…jangan ngambek dong, adekku sayang ! Maaf deh !”
” Ya udah…sana…ditungggu temennya tuh…”
” Ayo, ikut keluar dong !”
” Iya….iya….kakakku yang rese’…”
*
Di halaman rumah….
” Dagh….adek….jangan lupa bilang ke ibu ma bapak lho, ya !” pesan kakakku.
” Oke deh….” kataku sambil melihat kak Alvont dan kak Ryota yang ternyata sudah dari tadi memperhatikanku. Aku sedikit senang karena Ryota memperhatikanku.
” Assalammu’alaikum !” kata kakakku.
” Wa’alaikumsalam ! Hati-hati ya, kak….,” jawabku.
Dan yang tak kuduga sebelumnya…
” Dadagh….adek….,” kata kak Ryota sambil melambaikan tangannya dan tersenyum manis padaku.
” Oh….iya…kak…..dagh…!” jawabku yang kaget sambil melambaikan tangan padanya.
* * *
” Tok…tok…tok….Sakura…” suara ketukan pintu dan suara ibuku yang memanggilku itu membuyarkan lamunanku tentang kenangan manisku tujuh tahun yang lalu itu. Ya…tepatnya kenanganku waktu aku masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar dan kakakku yang masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas.
” Ya…ibu…sebentar….,” jawabku.
Dengan segera aku turun dari atas ranjang yang sedari tadi rebahan di situ dan membuka pintu kamar.
” Ya…ada apa, bu ?” tanyaku.
“ Ibu dan bapak mau pergi cari bahan-bahan buat tasyakuran wisudanya kakakmu !” kata ibuku.
“ Oh…ya udah….tapi ibu perginya gak lama, kan ?” tanyaku lagi.
“ Nggak kok…paling juga ntar jam empat sore dah pulang ! Gak apa-apa kan kamu jaga rumah sebentar ? Ini kan masih jam satu siang !”
” Iya…gak apa-apa kok, bu !”
” Oh…iya…ntar malam kakakmu datang ke sini. Kira-kira jam tujuh malam gitu deh…kamu yang siapin makanan buat makan malam, ya…”
” Yei…asyik…ntar kak Alvont mau datang ! Oke deh, bu !” jawabku kegirangan.
” Ya…terima kasih ya, sayang…”
” Sama-sama, bu ! Hati-hati di jalan, ya…”
” Iya…Assalammu’alaikum !”
” Wa’alaikumsalam !”
Ibu dan bapak pun segera berangkat menuju ke tempat tujuan.
” Wah…ntar malam kakak mau ke sini…aku siapin sesuatu yang spesial ah…sesuatu yang indah, karena selama ini kan kakak selalu bikin aku seneng…Ya…aku mau beri kado buat kakak !” gumamku.
*
Di dalam kamar…
” Aku ajak Lucky aja deh buat temenin aku cari kado…Lucky kan sohibku !” batinku.
” Telepon Lucky dulu ah…”
” Tut…tut….”
” Assalammu’alaikum…halo…bisa bicara dengan Lucky ?” kataku memulai obrolan.
” Wa’alaikumsalam….ya…Sakura….ada apa ?” jawab Lucky.
” Wah….Lucky hebat ! Bisa tahu kalo ini Sakura…padahal kan aku pake’ nomor pribadi…”
” Lho….siapa dulu ? Lucky….dah pasti hafal suaramu, Sa !”
“ He…he…he…gimana gak hafal ? Kita kan dah temenan dari kecil !”
” Yupz…ngomong-ngomong ada perlu apa dikau dengan hamba ?”
” He…he…he….kamu tuh ya…mesti guyon….! Gini…aku mau cari kado buat kakakku….kamu bisa temenin aku gak ?”
” Oh…bisa banget…kapan ? Sekarang, Sa ?”
” Wuih…semangat banget….! Iya…sekarang…gak apa-apa kan, Luck ?”
” Oh…ya jelas gak apa-apa lah….kapanpun kamu perlu aku temenin…aku, Lucky…sangat bersedia buat temenin kamu….he..he…he…”
” Ah…kamu itu…apa’an sih….”
” Lho…ini beneran kok….ya udah…tunggu aku di depan rumahmu ya…aku mau ambil motor dulu !”
” Oke deh, Luck ! Thank’s ya…! ”
“ Yupz….sama-sama…”
*
Jam setengah empat sore di depan rumahku …
“ Thank’s a lot ya, Luck !”
“ Yupz…you’re welcome !”
“ Besok malam kamu bisa ke sini gak ? Ada acara tasyakuran wisudanya kak Alvont…”
” Waduh…sorry…aku dah ada acara ma ibuku….”
” Oh…ya udah…gak apa-apa…”
” Ya…udah….kamu masuk sana….dah sore lho..!”
” Oke deh…aku masuk dulu ya…thank’s ya, Luck !”
” Iya….”
Setelah melihat Sakura masuk ke dalam rumah, Lucky pun pergi dari tempat itu. Di tengah perjalanan, Lucky berpikir…
” Andai saja Sakura tahu kalo besok malam tuh aku mau mengurus kepindahanku ke luar negeri yang pasti terlaksana dalam waktu dekat ini. Apa mungkin Sakura akan mencegah kepergianku dan mengetahui bahwa aku sudah menyukainya sejak kita masih kecil ?”
” Sakura….Sakura…andai saja kamu tahu bahwa kamu adalah satu-satunya orang yang kusukai….”
* * *
Jam tujuh malam di ruang makan rumahku….
” Bu, kak Alvont belum datang ya ?” tanyaku pada ibuku.
” Belum…mungkin sebentar lagi…,” jawab ibuku.
” Oh…iya, bu ! Acara tasyakurannya kakak tuh besok kan, bu ?”
” Iya…tepat di hari ulang tahun kakakmu…”
” Yupz…”
Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kalau satu keluarga ini sudah berkumpul, pasti ramai…ada canda dan gelak tawa. Apalagi kalau aku sudah bertemu dengan kakak…pasti kakak sudah menggodaku habis-habisan.
* * *
Keesokan harinya, tepat di hari spesial bagi kak Alvont…
Keluargaku mendapat kejutan dengan kedatangan semua sepupuku yang berasal dari luar kota.
*
Acara tasyakuran kakakku pun berjalan sangat lancar. Kakakku mendapat banyak kado dari sepupu-sepupuku. Tapi, yang paling seru…waktu kakak membuka kado dari aku. Kado yang tak seberapa mahal, tapi sangat berharga untukku dan kak Alvont….dua puluh empat buah foto saat aku dan kak Alvont masih kecil di satu pigura besar….ya…tepat di ulang tahun kak Alvont yang ke dua puluh empat tahun. Di dalamnya ada juga fotoku yang digendong kak Alvont, saat aku masih berumur dua tahun. Yang terlihat, kak Alvont tak kuasa menggendongku yang memang sangat gendut waktu masih kecil.
* * *
Di siang hari dua hari kemudian…
” Tit…tit…,” bunyi dering handphoneku yang menandakan bahwa ada pesan masuk.
Dengan segera kuambil handphoneku itu dan kubaca…
Asslm.
Sakura, nanti sore bisa temuin aku di depan rumahmu gak?
Aku mau ajak kamu keluar sampai malam.
Balas ya…
Thank’s.
* Lucky *
” Oh…Lucky….tumben dia tiba-tiba ajak aku keluar sampai malem ?” pikirku.
” Tanya ibu dulu ah….”
Aku keluar kamar dan menemui ibuku yang sedang berada di ruang tengah bersama bapakku.
” Ibu….” seruku memanggil ibu, dan segera duduk di sebelahnya.
” Ya…sayang…ada apa ?” tanya ibuku.
” Nanti sore aku boleh keluar sama Lucky gak, bu ?”
” Boleh….”
“ Tapi sampai malem…”
“ Iya….gak apa-apa…pokoknya harus hati-hati….”
“ Oke deh, bu !”
“ Mangnya kamu mau pergi ke mana sih, dek ?” tanya bapak tiba-tiba.
“ Aku juga belum tahu, pak ! Lucky tadi gak bilang mau ke mana…”
“ Tapi hati-hati lho, ya….harus bisa jaga diri !” kata bapak.
“ Iya…terima kasih ya, bu, pak !”
* * *
Sore harinya….
Lucky mengajakku ke halaman rumahnya, sepertinya dia ingin bicara serius.
” Sa, kamu tunggu dulu di sini ya….duduk di situ ya….!” kata Lucky sambil menunjuk ke sebuah kursi berwarna merah muda di halaman rumahnya, yang sebelumnya belum pernah ada di sana waktu terakhir aku ke sini.
Lucky pun masuk ke dalam rumahnya. Tak berapa lama dia kembali dengan membawa sesuatu yang disembunyikannya di balik punggungnya dan menghampiriku yang sedang duduk di kursi yang telah dikatakannya tadi.
” Sa, ikut aku yuk…,” pinta Lucky sambil terus menyembunyikan sesuatu yang dibawanya itu dari aku.
” Mau ke mana ?” tanyaku.
” Ke sebuah tempat….yang istimewa….,” jawab Lucky sambil menggandeng tanganku dan mengajakku ke sebuah ruangan di dalam rumahnya, yang juga belum pernah kulihat sebelumnya. Dan aku merasakan tangannya gemetaran dan dingin, tak seperti biasanya.
” Luck, ini ruang apa sih ? Kok gelap banget ya….,” tanyaku yang semakin heran melihat Lucky yang jadi aneh.
Tapi, Lucky diam saja…tak menjawab pertanyaanku.
” Sa, kamu berdiri di sini ya….tunggu aku di sini….dan jangan pergi ke mana-mana…,” seru Lucky tiba-tiba yang terdengar suaranya seperti gemetar.
” Kamu mau ke mana sih, Luck ?”
Sekali lagi, Lucky tak menjawab pertanyaanku dan tiba-tiba melepaskan genggamannya dari tanganku. Lalu pergi meninggalkanku.
Tak lama kemudian…
Tiba-tiba di dinding di mana aku menghadap ada cahaya lalu muncul tulisan…
Aku menganggap kamu bukan hanya sebagai sahabat…
Tapi kamu harus tahu bahwa aku sudah menyukaimu sejak kita masih kecil…
You are always in my heart…
Aku sangat terkejut dengan tulisan itu….
“ Lucky…kamu ada di mana ? Apa maksud semua ini ?” teriakku yang seakan tak percaya bahwa ini adalah tulisan darinya.
Tiba-tiba lampu di ruangan itu menyala…dan ternyata Lucky berada tak jauh dari tempatku berdiri, hanya berjarak tiga langkah di belakangku…
“ Benarkah kamu gak tahu maksud dari semua tulisan itu ?” kata Lucky yang menunjuk tulisan di dinding itu.
Aku hanya bisa diam, tak mampu berkata apapun.
” Oke…kalo kamu memang benar gak tahu arti dari tulisan itu…,” kata Lucky, lalu berjalan mendekatiku.
” Sakura…..mau gak kamu jadi cewekku ?” tanya Lucky tiba-tiba dengan menggenggam tanganku dan menghela nafas, kemudian berlutut di depanku.
” Ya…ampun…Lucky….aku….aku….gak tahu harus bilang apa….aku gak tahu bahwa selama ini kamu ada rasa ke aku….” jawabku.
” Please, Sa ! Tolong jawab pertanyaanku tadi….,” pinta Lucky yang masih berlutut di depanku dan semakin erat menggenggam tanganku.
” Ehm….Oke…aku mau jadi cewekmu…,” jawabku sambil menghela nafas.
Segera Lucky berdiri dan memakaikan sesuatu yang dibawanya tadi, yang ternyata adalah sebuah jepit rambut berwarna merah muda dan berbentuk bunga mawar, kemudian dia berkata…
” Aku tahu kalo kamu suka bunga….makanya ini aku berikan ini ke kamu !”
” Terima kasih, Sa ! Kamu mau terima perasaanku ke kamu….,” sambungnya.
Lalu Lucky mengajakku keliling kota dengan motornya, dia terlihat sangat gembira.
Dan malam harinya aku tak bisa tidur, masih teringat semua hal yang terjadi tadi sore.
* * *
Keesokan harinya…jam tujuh pagi….
” Adek….bangun….ikut antar aku ke bandara, gak….?” teriak kak Alvont di depan kamarku yang membuatku kaget.
” Aduh…kakak ini apa’an sih…aku tuh baru bisa tidur habis Sholat Subuh tadi, tahu…,” gerutuku, sembari membuka pintu kamar.
” Waduh….kamu lupa ya, dek ? Hari ini kan aku harus berangkat ke Jepang ! Aku kan dah diterima kerja di salah satu perusahaan di sana !”
” Oh…iya…sorry lupa..! Iya ikut…ikut”
” Iya…iya…tenang aja….dah kamu siap-siap aja dulu…berangkat ke bandaranya jam delapan kok…”
” Oke deh…”
*
Di bandara…
” Alvont…sini…!” teriakan seseorang yang berada cukup jauh dari hadapanku, yang sepertinya aku kenal.
” Iya…Ryota…,” jawab kak Alvont dan segera menghampiri orang yang memanggilnya itu
” Apa ? Kak Ryota ? Waduh…aku harus gimana nih ?” batinku agak bingung, tak menyangka akan bertemu Kak Ryota.
” Adek…ayo…sini…ngapain bengong di situ ?” teriak kakak tiba-tiba.
” I…iya…,” sahutku lalu berjalan ke arah kakakku berdiri.
” Waduh…kok jadi salah tingkah gini, ya…,” batinku lagi.
” Ryota…masih inget gak ma Sakura, adekku yang manis ini ?” tanya kak Alvont pada kak Ryota tiba-tiba.
” Oh…jelas dong….aku kan pernah ke rumahmu dan bertemu dengan adekmu, kalo gak salah sih….waktu kita masih SMA…ya kan, dek ?” jawab kak Ryota.
” Iya..,” jawabku sambil tersenyum.
Kak Ryota membalas senyumanku dengan senyuman manisnya.
” Waduh…apa iya, ya ? Aku sendiri aja lupa….he…he…he…,” kata kakakku.
” Waha…ha…ha…,” tawa ibu dan bapakku mendengar perkataan kak Alvont.
” Wow….kak Ryota masih inget waktu pertama kali kita bertemu…dia juga senyum ke aku…senyumannya manis banget sih…!” pikirku.
” Oh…iya…Ryota juga mau balik dan kerja ke Jepang, ya ?” tanya bapak tiba-tiba.
” Iya, om…Ryota kan asli sana…,” jawab kak Ryota.
” Kalo gitu…titip anakku yang tersayang ini, Sakura…katanya kalo kuliah…mau kuliah di sana…,” kata bapak sambil mengusap kepalaku.
” Apa’an sih bapak ini…?” timpalku.
” He…he…he….ngambek tuh, pak….,” sahut kak Alvont.
” Ya…gak apa-apa kok, om…mangnya adek sekarang kelas berapa ?” sambung kak Ryota yang terus memandangiku, membuatku malu dan gembira sekali.
” Kelas tiga SMA, kak !” jawabku yang sedikit tersipu malu.
” Wuih…berarti jarak umur kita tujuh tahun dong…,” kata kak Ryota.
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
” Adek ini suka senyum ya…senyumannya manis banget lho, Vont !” katanya lagi pada kak Alvont.
” Adekku ini memang manis banget kok…,” sahut kak Alvont.
Dan aku hanya bisa tersenyum mendengar semua itu. Lalu, kak Alvont dan kak Ryota berangkat ke Jepang. Sekali lagi, kak Ryota melambaikan tangannya dan tersenyum manis padaku.
*
Sore harinya…
” Tit…tit…”
” Ehm…ada pesan masuk nih….dari siapa ya ?” kataku.
Asslm.
Sa, malam ini kamu ada waktu gak ?
Aku mau ajak kamu keluar…
Balas ya, Sa…
Thank’s..
* Lucky *
” Waduh…gimana nih ? Aku harus balas apa nih ? Kok kayaknya aku gak nyaman jadi ceweknya Lucky….aku gak bisa bohongin hatiku sendiri, kalo yang aku suka tuh kak Ryota bukan Lucky…tapi aku juga gak mau melukai hatinya Lucky….,” batinku.
Dan akhirnya aku membalas pesannya itu…
Wa’alaikumslm.
Sorry sebelumnya ya, Luck..
Aku pasti gak dibolehin keluar ma orangtuaku..
Karena besok kan aku harus sekolah..
* Sakura *
” Uugghh…gak enak banget ya kalo kayak gini….serba salah deh…,” kataku.
” Tit..tit…”
” Eh…ada pesan lagi…,” ujarku.
Iya…
Gak apa-apa kok, Sa…
Aku ngerti…
Kamu harus belajar kan…
Ya..udah…met belajar ya, Sa…
* Lucky *
” Ehm…kasihan Lucky…,” ujarku.
Tiba-tiba aku teringat akan kejadian tadi pagi di bandara dan tiba-tiba juga airmataku menetes. Lalu aku segera mengambil buku kumpulan puisiku dan menulis…
Putih sayap itu kini kurasakan kian memudar
Kilaunya pun kini tak secerah dulu
Merasakan hal itu
Sayapku terasa menjadi berwarna kelam
Dentang jam pun semakin keras bunyinya
Namun sayap itu masih tak mampu untuk merangkul sayap putihku
Hingga sayapku merasa lelah untuk menantinya
Dan kini sepasang sayap datang menghampiriku
Sayapnya ingin menguatkan sayapku
Sayapnya ingin menjadikan sayapku berwarna cerah lagi
Namun sayapku tak yakin bahwa sayapnya mampu menggantikan sayapmu
Mengapa sayapmu harus terbang ke tempat yang tak bisa dijangkau oleh sayapku
Tuhan…
Bila masih ku diberi kesempatan…
Izinkan aku untuk mencintainya…
Namun…
Bila waktuku telah habis dengannya…
Biarkan cinta ini hidup untuk sekali ini saja…
Seketika itu airmataku menetes lagi, menahan sesak di dada…
* * *
Keesokan harinya…tepatnya di sore hari…di dalam kamar…
Lucky mengirim pesan yang sama untukku, dengan pertanyaan yang sama. Tapi, aku bingung harus membalasnya seperti apa. Aku merasa galau dengan perasaanku sendiri. Aku tak bisa terus begini, jika ini dilanjutkan…bukan hanya akan melukai hati Lucky, tapi hatiku juga akan tersiksa…
Lucky…
Sorry, aku gak bisa keluar sama kamu…
Sepertinya ini semua harus diakhiri..
Aku harus konsentrasi dengan sekolahku..
Semoga kamu bisa menemukan seseorang yang jauh lebih pasti bisa membuatmu bahagia…
Sekali lagi sorry…
Jepit rambut dari kamu yang waktu itu, akan aku kirim ke rumahmu…
Lalu Lucky membalas pesanku itu dengan mengatakan…
Ya..
Aku gak apa-apa kok..kalo memang kamu mau mengakhiri semua ini…
Tapi, kamu harus tahu…
Kamu adalah orang yang sangat berarti bagiku…
Padahal aku mengajakmu keluar tuh…aku mau bilang…besok aku akan pergi ke Los Angeles…mungkin untuk seterusnya..aku pindah di sana, di tempat asal orang tuaku…
Di sana aku akan mencoba untuk melupakanmu…orang yang sangat kusayangi…
Maaf…mungkin ini akan menyakitimu…
Aku gak mau ketemu kamu lagi…
* Lucky *
Seketika itu juga…airmataku bercucuran…kali ini jauh lebih deras dari biasanya…hatiku terasa sangat perih…sakit…sakit sekali…
Dengan segera kuambil buku kumpulan puisiku…
Maaf…
Maafkan diriku..
Yang telah membuat hatimu terluka…
Sayapku telah membuat sayapmu tergores…
Sayapku tahu bahwa goresan itu terlalu dalam menggores sayapmu…
Semakin terasa cintamu…
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku…
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini…
Kita tak mungkin terus bersama…
Maafkan aku…
Yang membiarkanmu masuk ke dalam hidupku ini…
Maafkan aku…
Yang harus melepasmu…
Walau ku tak ingin…
Suatu saat nanti…
Kau kan dapatkan…
Seorang yang akan dampingi hidupmu…
Biarkan ini menjadi kenangan…
Dua hati yang tak mungkin menyatu…
Mungkin engkau yang terlalu lemah…
Dan mungkin aku yang telah lelah dengan semua ini…
” Aku gak menyangka kalo semua ini akan melukaiku juga…sakit…sakit…banget…,” batinku yang masih menahan rasa sakit ini.
” Aku harus kuat…dan aku harus mampu, perlahan melupakan rasa sakit ini…maaf…Lucky…aku gak bisa mengatakan yang sejujurnya ke kamu…aku gak mau kamu akan jauh lebih terluka dari ini…,” gumamku sambil mengusap airmataku yang masih mengucur.
*
Keesokan sore harinya…
Aku pergi ke rumah Lucky untuk mengembalikan jepit rambut pemberiannya…aku tak bisa menyimpannya, karena benda itu pasti akan mengingatkanku tentang Lucky…tapi, yang kulihat…di rumah itu sudah tak ada siapa-siapa…kosong…
Dadaku langsung terasa sesak…rasa bersalah itu muncul…aku meletakkan jepit rambut itu di depan pintu rumahnya…tak terasa, airmata penyesalanku telah menetes perlahan…karena sakit yang tak pernah kuduga.
Kehilangan seorang sahabat adalah hal yang sangat menyakitkan di hatiku…
* * *
Lima bulan kemudian…sehari sebelum hari ulang tahunku…di dalam kamarku…
Kembali aku teringat dua kenangan itu…kenangan yang indah tentang kak Ryota dan kenangan yang sangat pahit tentang Lucky…
” Sebentar lagi hari ulang tahunku…tapi, aku masih belum bisa melupakan semua rasa sakit ini,” gumamku.
Dan aku mengambil sebuah buku yang sangat berarti bagiku…
Aku mulai menulis lagi di buku kumpulan puisiku itu…
Haruskah sayapku menghempas semua itu…
Mampukah sayapku melupakan semua itu…
Sesuatu yang terlalu indah untuk kulupakan…
Sesuatu yang terlalu dalam untuk diingat…
Tuhan…
Bila aku masih diberi kesempatan…
Untuk memperbaiki semua kesalahanku itu…
Aku sangat ingin semuanya kembali indah seperti dulu…
*
Hampir jam dua belas malam…mendekati hari ulang tahunku…
” Ting…tong…,” bel rumahku berbunyi.
” Aduh…sapa sih yang malem-malem dateng ?“ pikirku heran dan langsung keluar kamar menuju ke depan pintu rumah.
Jam pun berdentang…menunjukkan bahwa hari ulang tahunku yang ke tujuh belas telah tiba…
” Eh..gak ada orang…tapi, apa nih…kok kayak kado ya…lho, ternyata buat aku !” tanyaku heran.
Tiba-tiba lampu di ruang tamu padam…dan…
“ Selamat ulang tahun, Sakura…!” kata semua orang yang ada di rumahku, dan itu sangat membuatku terkejut.
“ Ayo..buka kadonya dong, sayang ¡” kata ibu dan bapak bersamaan.
Dan aku pun membuka kado itu…
” Wow…jepit rambut bentuk bunga dan bentuk kupu-kupu…bagus banget…eh ada tulisannya…,” seruku.
Selamat ulang tahun buat Sakura
Maaf kalau hadiahnya gak seberapa mahal
From : pengagum rahasiamu
” Waduh..dari sapa ya ? Kok pengagum rahasia sih…,” tanyaku heran.
Lalu, sepertinya ada seseorang yang menyalakan lampu…tapi, semua orang di hadapanku sekarang tak ada yang berpindah tempat untuk menyalakan lampu. Dan…
“ Selamat ulang tahun, Sakura !” suara yang sangat kuhafal..itu adalah suara kak Alvont dan di sebelahnya…ada kak Ryota, yang menyalakan lampu tadi…
“ Selamat ulang tahun, Sakura !” kata kak Ryota.
” Iya..terima kasih ya kak !” jawabku.
Sejenak…semuanya diam…lalu kak Ryota mengajakku ke halaman rumah. Ada kue tart bentuk hati yang berwarna merah muda.
” Kamu tahu, siapa yang mengirimkan kado tadi ?” tanya kak Ryota memulai pembicaraan dan terus memandangiku.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala…masih tak tahu maksud dari semua ini. Dan kak Ryota masih terus memandangiku…
” Pengagum rahasiamu itu adalah aku…aku datang ke sini untuk menemuimu, di hari yang spesial untukmu…dan aku mau bicara sesuatu ke kamu, dek..,” kata kak Ryota.
” Apa ?” kataku heran dan tak percaya dengan semua ini.
” Aku…sayang…Sakura…meskipun kita hanya dua kali bertemu sebelumnya, tapi kamu sudah merebut hatiku yang kini hanya ada kamu di sini…,” sambung kak Ryota sambil menggenggam tanganku dan meletakkannya di depan dadanya.
“ Kak Ryota sayang aku…,” batinku, senang.
Tiba-tiba airmataku menetes…
“ Lho…Sakura jangan nangis dong…semua ini aku lakukan hanya untuk Sakura…,” kata kak Ryota, lalu memelukku…seakan tak ingin melihatku menangis lagi.
“ Bolehkah aku menjadi seseorang yang sangat berarti dan satu-satunya cowok yang ada di hati Sakura ?“ tanya kak Ryota tiba-tiba.
” Boleh…,” jawabku.
“ Terima kasih ya, Sa…sini, aku pakaikan jepit rambut itu…aku dibilangin Alvont kalo kamu tuh suka bunga dan kupu-kupu,” kata kak Ryota yang kemudian melepaskan pelukkannya dan menyelipkan jepit rambut itu di rambutku dengan sangat lembut.
Acara kejutan itu berjalan lancar dan semuanya kembali ke kamar masing-masing, tak terkecuali kak Ryota yang akan menginap di rumahku dan tidur di kamar tamu untuk malam ini…karena keesokan harinya dia harus kembali ke Jepang bersama kak Alvont.
* * *
Tuhan…
Terima kasih…
Engkau telah memberikan satu hal lagi yang sangat indah bagiku…
Engkau telah membuat sayapnya menjadi milikku…
Sungguh…ini adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki…
* * *
Tiga hari kemudian…
“ Tit…tit…”
Ada pesan masuk di handphoneku…
Temui aku di depan rumahmu…
“ Hanya ini pesannya…kok gak ada namanya, ya ? Aku juga gak kenal nih nomornya sapa ?” batinku heran.
Segera aku melangkahkan kakiku menuju ke depan pintu gerbang rumahku. Dan…
” Sepertinya aku gak asing dengan pemilik punggung dan motor itu…,” pikirku.
Ternyata dugaanku benar…di saat aku berada tepat di belakangnya, dia menoleh padaku…
” Sakura….,” katanya.
” Lucky…,” kataku, sejenak menghela nafas…aku ingin kembali ke kamarku, tapi aku tak mampu melangkahkan kakiku sejengkal pun.
” Saat aku kembali ke rumah tadi pagi, aku melihat jepit rambut ini ada di depan rumahku…aku ingin kamu menyimpannya sebagai hadiah ulang tahunmu !” sambungnya sambil memegang tanganku, lalu meletakkan jepit rambut itu di atas telapak tanganku.
” Di sana aku gak bisa melupakan kamu, Sa…makanya aku kembali ke sini, aku akan tinggal di sini lagi…aku gak bisa jauh dari kamu…dan…masih maukah kamu menjadi sahabat terbaikku lagi ?”
” Mau…,” jawabku yang tak kuasa menahan airmataku.
Seketika itu juga, Lucky memelukku dengan erat…
* * *
Terima kasih sekali lagi untuk-Nya…
Yang telah memberikanku kebahagiaan ini…
Semuanya menjadi indah lagi…
Dan aku akan menjaga semua ini…
Mungkin semua kesedihan itu harus kulewati…
Karena kuyakin bahwa…
Tak selamanya aku harus bersedih…
Yang ada hanyalah kebahagiaan yang jauh lebih indah…
Yang akan diberikan-Nya untukku…
* * * * * *
Tolong aku sahabatku
Dengarkan jerit hatiku
Tentang dia, tentang dia, masih slalu tentang dia
Dia pernah membuatku merasa sempurna
Namun ternyata mimpi yang dia punya berbeda, berbeda…
Dia yang membuat aku bahagia
Tolong aku untuk melupakan dia
( the rain_tolong aku )
Seputih cinta ini
Ingin kulukiskan di dasar hatiku
Kesetiaan janjiku
Untuk pertahankan kasihku padamu
Bukalah mata hati
Ku masih cumbui bayang dirimu di dalam mimpi
Yang mungkin takkan pernah
Membawamu di genggammu
Dirimu di hatiku
Tak lekang oleh waktu
Meski kau bukan milikku
Intan permata yang tak pudar
Tetap bersinar
Mengusik kesepian jiwaku
Ku coba memahami
Bimbangnya nurani
Tuk pastikan semua
Tak akan kuingkari
Terlalu banyak cinta yang mengisi datang dan pergi
Namun tak pernah bisa
Lenyapkanmu di benakku
( kerispatih_tak lekang oleh waktu )
Mungkin ini yang terbaik untukku dan untukmu
Terbaik untuk kita
Bukan untuk kusesali ataupun kau tangisi
Biarkanlah apa adanya
Jangan lupa kita pernah punya cerita indah
Waktu bersama berdua
Simpan semuanya ke dalam buku kenangan kita
Sudah..simpan saja semua
Coba lupakan kamu
Ceriakan harimu slalu
Semuanya `kan baik saja
Masih banyak yang dapat aku lakukan
“well, you know everything`s gonna be just fine, ok?!”
( the rain_coba lupakan kamu )
kita harus menerima bahwa
memang tak ada kisah yang bisa sempurna
seperti yang selalu diimpikan
dan mimpi tak selalu jadi kenyataan
ada awal dan ada akhirnya yang mungkin tak dapat terurai semua
ada luka ada bahagia
yang mungkin takkan pernah terlupa
dan hatiku berkata
selamat jalan kekasih
manis yang berujung perih
kisah yang sungguh terlalu indah
kini semua berakhir sudah
selamat jalan kekasih
walau teramat sangat perih
namun aku pasti coba
untuk jalani semua
( the rain_terlalu indah )
Bayangan dirimu melekat dihati
Namun kini kau telah pergi
Mungkin cinta tak harus memiliki
Kau takkan hilang
Tak pernah hilang
Meski tak berhenti
Ku mencoba lupakan dirimu
Kau takkan hilang
Tak pernah hilang
Kan selalu terpendam
Menjadi kenangan
( dua band_takkan hilang )
bila waktu ku tersisa
untuk selalu disisi
menjaga hatimu
aku kan slalu mencoba
berikan yang terbaik untuk kau miliki
tapi maafkan aku
waktuku hanya sesaat
aku tak bisa memiliki menjaga cintamu
walau sesungguhnya hatiku mencintaimu, memilikimu
aku tak ingin kau terluka mencintai aku
hapuslah air matamu dan lupakan aku
sungguh di batas asa
ku hanya ingin kau bahagia
jalani hidupmu
( dygta_tak bisa memiliki )
seandainya kau ada di sini denganku
mungkin ku tak sendiri
bayanganmu yg selalu menemaniku
hiasi malam sepiku
ku ingin bersama dirimu
ku tak akan pernah berpaling darimu
walau kini kau jauh dariku
kan slalu ku nanti
karena ku sayang kamu
hati ini selalu memanggil namamu
ku berjanji hanyalah untukmu cintaku
takkan pernah ada yg lain
adakah rindu di hatimu
seperti rindu yg kurasa
sanggupkah kuterus terlena
tanpamu di sisiku
kukan selalu menantimu
( dygta_karena ku sayang kamu )